Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Why Abraham's Seed?

Blog ini diberi nama Abraham's Seed "Karena jika kita adalah milik Kristus kita juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Gal 3:29)

This blog is named with Abraham's Seed because "If you belong to Christ, then you are Abraham's seed, and heirs according to the promise." (Gal 3:29)
Read full story

Friday, April 10, 2009

Menamai dan Memaknai

Saya ingin sedikit sharing akan Firman Tuhan yang kemarin dibagikan pada saat kebaktian Jumat Agung.

 

Bangsa Israel sudah sejak lama merayakan hari raya Paskah. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi bangsa Israel, mereka berkumpul dan makan roti yang tidak beragi. Hingga suatu hari di ruang atas ketika Yesus dan para muridnya berkumpul merayakan Paskah. Ketika itu ada sesuatu yang Yesus ucapkan yang membuat hal yang biasa dari bangsa Israel menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.

 

Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.(Mark 14:22-24)

Yesus tidak berkata roti ini adalah simbol atau lambang dari tubuh-Ku, but He said "This is my body. This is my blood." Yesus menamai roti dengan tubuh-Nya dan anggur dengan darah-Nya. Sejak hari itu terjadi perubahan kebiasaan yang luar biasa, para murid menerima roti dan anggur tersebut dengan makna yang dalam. Bukan sekedar roti dan anggur biasa, tapi itu adalah sungguh-sungguh tubuh dan darah Tuhan. Bahkan dampak peristiwa itu kita alami hingga hari ini. Setiap diadakan perjamuan kudus (atau komuni di Katolik) para jemaat menerima tubuh dan darah Tuhan dengan penuh hormat.

 

Manusia Adam mendapatkan tugas pertama dari Tuhan untuk menamai ciptaan-Nya. Seperti nama yang diberikan oleh Adam kepada binatang tersebut, demikianlah nama binatang itu. "Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu." (Kej 2:19)

 

Ada suatu penemuan yang luar biasa dari Masaru Emoto, seorang peneliti dari Jepang. Beliau menemukan bagaimana cara kita memperlakukan air, bisa diberikan respon oleh sang air kembali dalam bentuk kristal. (dilihat dengan mikroskop 400x dalam suhu dibawah nol derajat). Air dari sumber yang sama di taruh dalam 3 gelas, yang satu diberi nama : Love & Appreciation, yang kedua diberi nama : Hope, yang ketiga diberi nama : you make me sick. Kemudian setelah dikristalkan dan dilihat dengan mikroskop maka akan terlihat seperti dibawah :

1. Love and Appreciation
Cinta dan Rasa Syukur

Kristalisasi Air (6)

 

2. Hope
Harapan

Kristalisasi Air (7)

 

3. you make me sick
Kamu sangat menyebalkan

Kristalisasi Air (8)

 

Luar biasa bukan.. Air yang kita beri nama Love & Appreciation dan Hope, kritalisasinya menjadi sangat indah sesuai dengan nama yang kita berikan, sedangkan yang kita beri nama 'you make me sick' menjadi sangat buruk.. padahal berasal dari sumber air yang sama. Dengan nama apakah kita namakan kehidupan kita, diri kita, anak kita, keluarga kita, teman-teman kita, lingkungan kita? Mari kita menamai dan memaknainya dengan cara yang lebih baik.

Tuesday, April 07, 2009

Apakah Engkau Yesus?

Beberapa bulan yang lalu, sekelompok salesman menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat. Namun, country sales manager menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan.

 

Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka ditangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan mereka pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan. Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-detik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Rekan ini berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk si penjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai. Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Ternyata Gadis penjual apel yang berumur sekitar 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya.


Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?" Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap saya tidak merusak harimu begitu parah." Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan..." Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?" Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"


Apakah orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih, anugrah dan kehidupanNya. Jika kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di gereja.


Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari demi hari. Anda adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya.

 

Email dari seorang rekan yang bekerja sebagai district sales manager perusahaan Farmasi di USA.

Monday, April 06, 2009

Terapi Tertawa

Saya ingin sedikit bercerita yang saya alami 2 minggu lalu, ketika saya di Jakarta mempersiapkan bahan presentasi ke ATPM. Agak sedikit weird, but it's really awesome.

 

Seperti biasa kami bersepuluh melembur hingga pagi hari. Pada hari terakhir kami lembur hingga pukul 2.30 pagi. Benar-benar melelahkan secara fisik. "Ed, duduk o di sini.." Ucap saya dengan nada yang lemah dan terdengar seperti seorang yang mabuk. Ketika saya mendengar ucapan saya sendiri saya tertawa geli karena nadanya yang mirip orang mabuk. Tawaan saya dibalas oleh teman saya Eddy dengan tawa juga, dan tawaan Eddy membuat saya kembali tertawa, sehingga saya terus tertawa terbahak-bahak hingga dilihat oleh para Manager. Segera saya menutup mulut saya dengan tangan dan berusaha mengontrol kegelian yang saya alami, namun tidak berhasil. Saya terus tertawa sehingga salah satu Manager ikut tertawa.. "Hahah, Kenapa Min? Apa yang lucu." Karena saya terus tertawa saya tidak sempat menjawab, saya sendiri tidak tahu kenapa tertawa terus. "Kenapa Ed?" tanya salah satu Manager. "Hahahah.. Ga tau tuh, Pak.. " Jawab Eddy. Saya terus tertawa di hadapan para staff dan Manager bahkan di hadapan Main Dealer yang lain. Kira-kira 15 menit berlalu, akhirnya saya bisa berhenti tertawa. Benar-benar melegakan setelah tertawa sekian menit, badan terasa segar kembali.

 

Setelah kejadian itu saya teringat dengan berita yang pernah saya lihat di TV, tentang terapi tertawa. Jadi ada sekelompok orang yang menerapkan terapi tertawa untuk tindakan pencegahan dan penyembuhan dari berbagai penyakit. Mereka berkumpul untuk tertawa hingga beberapa menit. Hal ini benar-benar membuat mereka sehat bahkan menyembuhkan sakit mereka. Bukankah ada di Nehemia 8:10c "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" Dalam terjemahan KJV "The joy of the Lord is your strength!" Di Amsal 17:22 juga dikatakan "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Yes, that's true..

 

Awal saya berpikir.. "koq kayak orang gila yah.. tertawa dewe gitu.. seperti orang mabuk.." Itu juga yang terjadi di Kisah Para Rasul pada saat mereka dipenuhi oleh Roh Kudus. Kis 2:15 "Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan," Seperti orang mabuk tapi bukan mabuk, namun dipenuhi oleh Roh Kudus. Mari bersukacita di dalam Tuhan!!!

 

"Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan bersukacitalah!" Flp 4:4

Sunday, April 05, 2009

Suku Indian

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam.Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka,dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu. Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala,bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya. Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam" melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Ia setia, Ia mengasihi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga bagi kita.

God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind
So,
When you don't understand Him And
When you can't see His plan And
When you can't trace His hand
JUST TRUST HIS HEART.

Friday, April 03, 2009

Takut Akan Tuhan

Dalam Kitab Mazmur 147 : 11, Daud memberi kita pemahaman tentang dua hal yang menyenangkan hati TUHAN – dua hal yang sepertinya tidak berhubungan satu sama lain.

“ TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan DIA,

                        Kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-NYA.”

 

Pertama, TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan DIA, orang-orang yang memiliki kekaguman dan hormat akan DIA, kedua, TUHAN berkenan dengan mereka yang berharap akan Kasih Setia-NYA.

 

Dalam perenungan kita hari ini, saya ingin berfokus pada arti dari takut akan TUHAN.

 

Firman TUHAN secara tetap mengarahkan kita untuk takut akan TUHAN, tapi bagaimana kita melakukannya? Saya percaya Alkitab memberi kita setidaknya empat cara :

1. Melalui hidup dalam perintah-perintah-NYA. Kitab Pengkhotbah katakan ” ... karena ini adalah kewajiban semua orang.”

2. Melalui ketaatan yang dalam. Untuk takut akan TUHAN berarti mentaati DIA secara mendalam, seperti yang Abraham lakukan dalam Kitab Kejadian 22 saat dia rela mempersembahkan putranya.

3. Dengan kesadaran bahwa TUHAN selalu melihat kita. Firman TUHAN membuat hal ini menjadi sangat jelas bahwa tidak ada tempat kemana kita dapat pergi yang TUHAN tidak dapat melihatnya.

4. Dengan pengetahuan bahwa suatu hari setiap kita harus berdiri dihadapan TUHAN sebagai Hakim kita.

 

Yesus bahkan berkata kepada kita bahwa suatu hari, saat kita berdiri dihadapan-NYA, kita harus mempertanggung jawabkan setiap perkataan sia-sia yang kita ucapkan di bumi.

 

Berdoalah hari ini supaya TUHAN membantu kita hidup dengan empat prinsip tersebut, karena TUHAN berkenan kepada orang-orang yang takut akan DIA.

 

By : David Lee Elkana

Thursday, April 02, 2009

Billy Bertobat

Para gadis mengelu-elukan bintang bola basket dan baseball muda itu di SMA Sharon, dekat Charlotte, negara bagian North Carolina. Pemuda itu berharap bahwa suatu hari nanti ia dapat menjadi seorang pemain baseball utama di klub baseball besar. Jika tidak demikian, ia berpikir untuk menjadi seorang petani seperti ayahnya.


Billy berusia tujuh belas tahun pada saat Mordecai Ham, seorang petinju bayaran yang telah menjadi penginjil, datang ke kota Charlotte. Mordecai Ham adalah seorang penginjil yang berapi-api dan suka menunjuk orang-orang yang berdosa secara langsung. Pemimpin-pemimpin gereja di kota Charlotte menganggap Mordecai Ham sebagai pengganggu. Mereka menolak permintaan izinnya untuk membangun sebuah tenda. Namun, dengan pertolongan orang-orang awam, bekas petinju itu memasang tenda tepat di luar batas kota.

 

Ia sudah mengadakan kebangunan rohani selama beberapa minggu ketika Billy -- seorang pemuda tinggi ramping, berambut ikal dan pirang -- datang. Setiap Minggu, Billy pergi ke gereja dengan orang tuanya yang saleh. Ia tidak merokok maupun minum minuman keras. Namun demikian, ada hal-hal lain yang harus dilakukannya dan walaupun ayahnya seorang pendukung kuat Mordecai Ham, Billy tidak berusaha untuk menghadiri kebangunan rohani itu sebelumnya.


Pengunjung kebangunan rohani itu cukup banyak bagi kota Charlotte -- lima ribu orang. Orang-orang berkata bahwa hal itu merupakan hal terbesar yang pernah dialami oleh penduduk negara bagian Carolina. Billy dan temannya di SMA berjalan melewati jalan kecil di antara deretan bangku dan duduk di bangku yang keras.

Khotbah yang disampaikan pengkhotbah berbadan besar itu sangat tidak berkesan bagi Billy sampai pengkhotbah itu mengacungkan jari menunjuk ke arah Billy dan berteriak, "Kamu berdosa!"


Billy -- yang selalu siap menangkap bola -- tidak siap untuk main tangkap-tangkapan dengan pengkhotbah itu. Ia menundukkan kepalanya yang berambut pirang dan bersembunyi di belakang topi seorang wanita di depannya.


Dua malam kemudian Billy datang lagi dan membawa seorang teman, namanya Albert McMakin. Selama beberapa malam selanjutnya, kedua orang itu hadir bersama-sama. Penginjil yang berapi-api itu terus meyakinkan Billy bahwa ia harus memilih: surga atau neraka.

 

Pada suatu malam, Billy membawa seorang teman lain, namanya Grady Wilson. "Mari kita duduk di bagian paduan suara," usul Billy walaupun ia tahu ia tidak dapat menyanyi. Maka kedua orang itu duduk di belakang mimbar (tempat paduan suara), selamat dari pandangan pengkhotbah yang suka memukul mimbar itu.

 

Mordecai Ham tidak menunjukkan jarinya kepada Billy malam itu, namun demikian Billy mendapat pukulan dari khotbahnya, pada saat pengkhotbah itu berkata, "Malam ini ada orang yang sangat berdosa di sini."

"Ia mengatakan tentang saya," pikir Billy, "seseorang pasti telah memberitahu dia bahwa saya ada di sini."

 

Pengkhotbah itu mengakhiri khotbahnya dan memberi undangan bagi orang-orang yang mau bertobat. Billy menahan napasnya pada saat paduan suara itu mulai menyanyi. Setelah menyanyi sebentar, ia tidak dapat bertahan lagi. "Ayo, Grady," ia berkata kepada temannya.

 

Kedua orang itu turun dari paduan suara dan berdiri di depan. Mengingat saat ketika ia membuat keputusan, Billy berkata, "Hal itu seperti tinggal di luar pada hari gelap dan sinar matahari menembus melalui lapisan awan. Segalanya tampak berbeda. Untuk pertama kalinya saya merasakan sukacita dilahirkan kembali."

Sejak malam yang penuh kenangan pada tahun 1936 itu, Billy Graham terus berkhotbah kepada lebih banyak orang daripada almarhum Pendeta Mordecai Ham, orang yang telah membimbingnya kepada Kristus. Sebenarnya ia telah berkhotbah kepada lebih banyak orang secara langsung daripada pengkhotbah-pengkhotbah lainnya dalam sejarah --  lebih dari dua puluh juta orang. Namun demikian, yang lebih penting lagi, ia telah meyakinkan puluhan ribu orang untuk bertobat dan berlutut kepada Kristus.

 

Penulis : James C. Hefley

Wednesday, April 01, 2009

Terang Yang Benar

Ditempatkan nyalah kandil di dalam Kemah Pertemuan berhadapan dengan meja itu, pada sisi Kemah Suci sebelah selatan

(Keluaran 40:24)

Makan di tengah kegelapan memang tidak menyenangkan. Cahaya yang remang-remang di restoran memang sudah biasa, tetapi makan di dalam ruangan tanpa lampu adalah hal yang sama sekali berbeda. Begitu pula dalam perjalanan kita bersama Allah. Jika kita tidak menerima berkat terang yang ditawarkan-Nya, kita tidak akan melihat apa yang dilakukan-Nya bagi kita.

 

Perjanjian Lama memberi kita gambaran tentang hal ini Kemah Suci. Ketika imam memasuki ruangan yang disebut Tempat Kudus, hanya dengan diterangi lampu-lampu ia dapat melihat kandil emas (Keluaran 25:31- 40). Seperti semua benda lain dalam ruangan itu, kandil itu pun dibuat berdasarkan contoh yang telah diberikan Allah kepada Musa (ayat 40).

 

Kandil merupakan gambaran tentang terang rohani. Emas menunjukkan nilai. Minyak melambangkan Roh Kudus. Keenam cabang yang muncul dari sisi tengah menggambarkan kesatuan di tengah kemajemukan yang ada. Bunga buah badam adalah lambang pemimpin yang diurapi Allah (Bilangan 17:1-8). Apabila semua ini digabungkan dengan keterangan dalam Perjanjian Baru yang memakai kandil emas untuk mewakili jemaat (Wahyu 1:20), kita akan mendapatkan gambaran yang lengkap. Allah memberi terang melalui Roh, yang bekerja melalui jemaat-Nya yang merupakan orang-orang yang diurapi (1 Petrus 2:9).

 

Roh Kudus memberikan terang yang kita butuhkan. Lalu, apakah setiap hari kita meluangkan waktu untuk berdoa dan membaca firman Allah sehingga kita mendapatkan berkat dari-Nya? - Mart De Haan

Your Opinion

Nama:
Alamat Email:
Pendapat Anda tentang blog ini:

create form
lowongan kerja di rumah